FRIS TENUN TRADISIONAL TARUTUNGDARI SEUNTAI BENANG MENJADITENUN BERNILAI TINGGI

oleh -0 Dilihat
oleh

Indonesia mempunyai beragam kain tenun dan songket yang terkenal dan keberadaannya sudah sangat lama yang merupakan warisan nenek moyang kita. Melalui kain tradisional tersebut dapat kita lihat kekayaan warisan budaya yang tidak saja terlihat dari teknik pembuatan,aneka ragam corak serta jenis kain yang dibuat, akan tetapi dapat juga dikenal sebagai fungsi dan arti kain dalam kehidupan masyarakat Indonesia yang mencerminkan adat istiadat kebudayaan dan kebiasaan budaya yang bermuara pada jati diri masyarakat Indonesia itu sendiri. Tenun Tarutung merupakan salah satu kain tradisional Indonesia khas Sumatera Utara khususnya kabupaten Tapanuli Utara.

Saya Ny Herlina Donda Frisca Hendro Manurung Anggota Persit Kartika Chandra Kirana Cabang X Rindam PD I/Bukit Barisan adalah seorang wanita bersuku Batak yang lahir di Tarutung dimana daerah ini merupakan salah satu daerah penghasil tenun dan songket di Indonesia. Berawal dari pesan ibu saya yang menyatakan bahwa anak perempuan tidak bisa bertenun berarti tidak bisa menikah, memang kedengaranya sedikit aneh. Tetapi saya tetap mematuhi pesan ibu saya, di bangku Sekolah Dasar (SD) saya mulai belajar bertenun, yang di awali dari tahap dasar yaitu memintal benang, mangani dan dilanjut dengan membuat motif tenun dan proses itu berlangsung secara terus menerus sampai saya mahir membuat berbagai macam motif tenun yang diantaranya Piala Full, Tumtuman, Sadum, Bintang Maratur, Pucca Klasik dan lain lain.

Semasa duduk dibangku SMP sampai SMA saya sudah bisa menghasilkan satu lembar tenun dalam seminggu dan itu saya kerjakan setelah pulang sekolah. Dalam proses bertenun kami masih mengunakan alat tenun tradisional yang terbuat dari bahan bambu dan kayu atau yangumumnya dikenal dengan alat tenun gedogan (gendong).

Semasa saya kecil menjadi pengrajin tenun bukanlah cita-cita saya melainkan menjadi pegawai kantor khususnya dibidang   perbankan yang membuat saya memutuskan untuk melanjutkan perkuliahan dan bergelar Sarjana Ekonomi, akan tetapi saat ini saya  bersyukur memiliki keterampilan membuat tenun ini karena saya dan keluarga khususnya bisa mendapatkan tambahan ekonomi dari tenun yang saya tenun apalagi sekarang saya hanya seorang Ibu Rumah Tangga yang sudah tidak bekerja lagi, walaupun terkadang saya mendapatkan kendala atau kesulitan dengan keterbatasan waktu yang saya miliki seperti mengurus anak-anak dan suami, tetapi saya tetap berusaha untuk selalu melanjutkan karya ini dan berinovasi menghasilkan tenun motif baru. Untuk Income yang saya dapatkan setiap bulannya bervariasi berkisar jutaan bahkan sampai puluhan juta yang sangat membantu perekonomian keluarga.

Sampai saat ini hasil tenun yang saya tenun sudah mencapai ratusan set yang setiap setnya terdiri dari tiga lembar, satu lembar untuk selendang dan dua lembar dijadikan sarung. Pembuatan satu set songket membutuhkan waktu variatif sesuai dengan tingkat kesulitan motif itu sendiri, misalnya Motif Tumtuman Ragi Idup yang tingkat kesulitan pembuatan motifnya sangat sulit sehingga membutuhkan waktu kurang lebih satu bulan. Selanjutnya Motif Tumtuman yang tingkat kesulitan pembuatannya sedang akan membutuhkan waktu sekitar dua minggu,dan tenun yang tingkat kesulitannya paling rendah akan membutuhkan waktu pekerjaan sekitar satu minggu saja.

Tenun yang paling diminati adalah motif Tumtuman yang biasanya ditenun dengan benang dasar warna putih dan dihiasi dengan Motif Tumtuman/Gorga dari benang emas atau perak. Songket ini dominan digunakan di acara pernikahan Khususnya dipakai pengantin wanita dan orang tua pengantin selanjutnya tenunan ini juga digunakan di acara-acara formal maupun nonformal sebagai paduan kebaya.

Untuk harga pemasarannya tenun ditentukan oleh tingkat kesulitan pembuatan motif itu sendiri, semakin sulit motif yang dikerjakan maka semakin tinggi pula harganya. Selama ini saya telah mendapat pesanan dari seluruh Indonesia dengan pesanan berbagai macam motif sesuai dengan permintaan customer dan sampai saat ini saya sangat bersyukur masih diberi kepercayaan untuk menyediakan songket yang akan mereka gunakan untuk berbagai acara.

Untuk pemasarannya sendiri saya memasarkannya melalui offline dan online dengan menggunakan media sosial Facebook “Fris Sihombing Songket Tarutung” dan Instagram saya @fris_sihombing.Penjualan songket hasil karya saya ini sudah ke seluruh Nusantara mulai dari Sabang sampai Merauke.

Mudah-mudahan dengan narasi yang saya buat ini dapat menjadi motivasi bagi ibu-ibu yang lain, karena kesempatan tidak akan datang dengan sendirinya melainkan hasil dari usaha yang konsisten terhadap sesuatu yang kita yakini oleh karena itu mari temukan hobby atau karya kita yang sesunguhnya, fokus dan jalani dengan tekun dan konsisten. Percayalah selalu ada jalan bagi kita yang selalu berusaha, sehingga di satu titik kita tinggal menuai hasil. HORAS

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.